AFEKTIF YANG EFEKTIF ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0
Era Revoluasi Industri 4.0 (RI 4.0) dihadapkan dengan keterbukaan teknologi, seluruh sendi kehidupan manusia di dekatkan dengan teknologi. Lima tahun atau sepuluh tahun lalu kita yang mencari-cari bagaimana memanfaatkan teknologi tersebut, namun seiring dengan perkembangannya dengan RI 4.0 sudah tidak ada penghalang untuk mendapatkan informasi sesuai dengan keperluan yang kita inginkan. Contoh yang paling kongkrit adalah Ojek Online, Taksi Online dan atau GoCerdas. Dahulu apabila kita ingin naik taksi harus menuju jalan raya agar mudah mendapatkan taksi tersebut. Begitu juga apabila orang tua memerlukan guru ngaji atau guru mata pelajaran tinggal klik GoCerdas semua tersedia guru-guru yang hebat dalam aplikasi ini.
Tak ketinggalan dunia pendidikan juga terasa dampaknya. Informasi-informasi terkait dengan dunia pendidikan tersedia dalam gaway asalkan tersambung dengan internet. Semua ilmu yang kita inginkan tinggal ketik sesuatu yang kita ingin maka keluarlah seluruh artikel maupun videonya. Hal ini merupakan tantangan yang luar biasa bagi guru-guru untuk lebih cerdas menyikapi kemajuan ini, guru harus lebih update daripada siswanya, jadi guru harus update jangan menjadi guru yang kudet (kurang update), terutama ranah kognitif dan psikomotirik.
Untuk ranah kognitif, kita dihadapkan dengan siswa-siswa yang aktif di dunia maya. Mereka akan mempelajari baik mata pelajaran maupun kehidupan dengan mudah didapat di media sosial. Guru mengarahkan agar artikel-artikel yang rujukannya benar dapat dijadikan pengayaan intelektualnya, karena apabila tidak dibimbing menggunakan internet sehat maka menjadi masalah juga dikemudian hari. Mungkin pada kesempatan dalam kegiatan belajar mengajar diselipkan kegiatan mencari artikel yang sesuai dengan mata pelajaran di internet secara bersama-sama dan guru menentukan topik yang akan dibahas secara individu maupun kelompok sesuaikan dengan situasi dan kondisi.
Ranah psikomotor sangat diperlukan oleh siswa agar menjadi manusia yang unggul dalam dunia global karena harus memiliki keterampilan yang mumpuni baik secara mandiri maupun secara kelompok. Keterampilan merupakan suatu keharusan dalam ERA RI 4.0, apabila tidak memiliki keterampilan maka akan tergilas dengan teknologi atau Sumber Daya Manusia yang lebih terampil baik dari dalam maupun dari luar negeri. Keterampilan harus dalam bimbingan/pengawasan guru agar siswa memiliki keterampilan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur.
Pada ERA RI 4.0 ranah Afekti menjadi modal yang paling berharga untuk menciptakan manusia yang bermartabat. Afektif lebih dekat dengan membentukan sikap, pembentukan sikap lebih efektif di sekolah karena siswa lebih banyak aktifitasnya di sekolah, nah peran guru itu sangat penting karena guru adalah figur yang ditiru secara langsung, baik perkataan maupun perbuatannya. Guru dituntut memiliki kesempurnaan sikap, karena menjadi model langsung dihadapan siswa. Apalagi sekarang dengan kebijakan fullday school, benar-benar siswa melihat keseharian sikap guru. Mengapa peran sekolah sangat penting untuk pembentukan sikap anak, karena anak/siswa lebih banyak waktunya di sekolah, contoh perputaran waktunya jam sekolah antara pukul 7.00 sampai dengan 16.00, pulang ke rumah bersih-bersih, lalu aktifitas menjelang malam sampai dengan pukul 21.00 istirahat tidur, bangun jam 05.00 persiapan berangkat ke sekolah. Waktu di rumah dari pulang sekolah sampai dengan aktifitas pagi kurang lebih 5,5 jam sedangkan waktu anak/siswa lebih banyak dihabiskan di sekolah lebih dari 8 jam, kegiatan tersebut dijalani 5 hari dalam seminggu. Untuk hari sabtu dan minggu merupakan hari keluarga dimana anak/siswa lebih banyak memilih istirahat daripada menemani aktifitas orang tua. Mungkin untuk anak/siswa yang masih duduk di bangku sekolah dasar atau SMP masih bisa diajak ke sana-ke sini aktifitas liburan sabtu dan minggu. Waktu sabtu dan minggu merupakan hari di mana mereka melihat contoh konkret sikap orang tuanya secara terbatas, hal ini menurut saya menanamkan kesempurnaan sikap anak/siswa yang didapat seminggu penuh dengan meneladani sikap guru di sekolah dan dilengkapi dengan contoh sikap di rumah pada hari libur. Guru dan orang tua harus bersinergi untuk menumbuhkan sikap yang baik terhadap anak/siswa. Penting porsi ranah affektif digaungkan lebih besar dalam kegiatan belajar mengajar, karena dukungan era RI 4.0 untuk ranah kognitif dan psikomotorik sudah cukup tinggi. Teknologi sudah semakin canggih harus diiringi dengan sikap yang baik (bermoral, berintegritas, bermartabat).
Ada beberapa contoh perilaku guru yang diharapkan dapat menjadi teladan sikap/afektif bagi siswa. Beberapa contoh tersebut diantaranya, tidak merokok di area sekolah, meminta siswa berdoa sebelum memulai pelajaran, memungut sampah yang berserakan, mengikuti praktek literasi di saat apel pagi dengan buku bacaan yang bertemakan kisah inspiratif selanjutnya bergiliran dengan siswa menceritakan kepada siswa intisari buku yang dibacanya, membalas senyum siswa, memuji siswa jika ia mengerjakan tugas dengan baik, masuk kelas tepat waktu dan masih banyak lagi contoh lain. Contoh-contoh yang sederhana namun mengena di hati siswa dan menginspirasi mereka untuk mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga tulisan ini dapat memberikan inspirasi, mencetak generasi bermoral dan berintegritas dalam menghadapi bonus demographi 2030-2045, serta SDM yg kita siapkan sekarang dapat bersaing dalam kancah global.
#GOcerdas
No comments:
Post a Comment